Sunday, July 20, 2008

Hai Ukhti

Baca Selengkapnya »»

Friday, July 18, 2008

Bicaralah dengan Hati dan Mendengarlah Dengan Hati


Sering kali kita mendapatkan teman, kerabat, orang tua, dan orang lain yang berhadapan dengan kita sebagai lawan bicara kita berbicara dengan gaya yang beraneka ragam, dengan intonasi dan pengucapan yang berbeda, dengan lagam yang berbeda pula. Semua itu tak ayal disebabkan karena setiap insan manusia memiliki keunikan tersendiri sebagai manifestasi ke Maha Besaran Tuhan Pencipta seluruh jagad dan alam raya semesta. Tak dapat kita pungkiri ternyata setiap orang yang menjadi lawan bicara kita dalam berkomunikasi sebagai salah satu wujud fitrah dasar kita sebagai manusia lemah yang membutuhkan orang lain untuk berdampingan dalam hidup ini, terkadang pembicaraan mereka ada yang sedikitnya menyinggung perasaan dan hati kita, ada pula yang mengangkat sisi kebanggaan diri kita, bahkan ada pula yang sengaja atau tidak secara sengaja malah menjatuhkan diri kita. Terkadang hal yang paling menyebalkan bagi sebagian diri kita, ketika berhadapan dengan lawan bicara yang seisi pembicaraan dari prolog sampai penutup hanya berisi rangkaian cerita gambaran alur kehidupan pribadinya, entah tentang dirinya sendiri, kehebatan keluarganya, kekasih, prestasi-prestasinya, petualangan-petualangan dirinya, tanpa sedikit pun mempedulikan apa yang terjadi pada diri kita sebagai pendengar nya. Padahal pemberontakan dalam pembicaraan sering kali kita lakukan walaupun pemberontakan itu tidak kita wujudkan dengan lontaran-lontaran kata penolakan, tetapi dalam raut wajah yang malay, bosan, jenuh, dan sering kali kita hanya mengabaikan apa yang orang tersebut bicarakan, “masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan”.

Tapi pernahkah kita menyadari….bahwa hal tersebut pun sering kita lakukan, cobalah kita sedikit jujur dengan diri kita, ketika kita mendapati lawan bicara dalam berkomunikasi, sering kali kata-kata yang terlontar adalah “kalo gua sih” , jarang sekali “kalo elo gimana”, sedikit contoh, si fulan sebagai lawan bicara kita sedang asyik menceritakan kejadian ketika ia mendapatkan nilai ujian dengan grade B, betapa bangganya ia mendapatkan nilai B ketika teman-teman yang lain banyak yang tidak lulus, betapa bersemangat nya ia menggambarkan bagaimana perjuangan-perjuangan yang telah ia lalui sampai mendapat nilai B, tetapi kita atau siapa saja sebagai lawan bicaranya sering kali membalas seperti ini…., “wah….kalo gua belajar getol kayak elo gua juga bakalan dapat B juga kali, padahal gua Cuma belajar malemnya doang sebelum ujian, gua bisa dapet C, apalagi kalo gua belajar jauh-jauh hari kayak lo…”, si fulan sontak akan berontak “ahh….itu sih speak elo doangan…bilang aja lo gak mau ngalah…” coba kita bayangkan bagaimana perasaan orang yang mendengar perkataan tersebut, sehingga berakibat terjadi perseteruan yang akhirnya berujung saling menjatuhkan, dan mungkin lawan bicara kita akan merasa terpukul, dan bahkan bisa membuat hubungan kita dengan teman secara psikologi menjadi kurang harmonis. Alangkah baiknya ketika si Fulan menceritakan peristiwa nya tersebut, kita tanggapi dengan memberi penghargaan (bukan pujian penjilatan) yang tulus karena si Fulan memang telah bekerja keras, rajin belajar, sehingga ia mendapatkan nilai B, misalnya “wah….hebat lo lan, berarti usaha lo gak sia…sia…, kayaknya gua harus banyak belajar dari lo neh…” spontan Fulan pun kan merendahkan hatinya dengan memberikan jawaban “ahh…biasa aja....mungkin lo kurang belajar aja, makanya lo dapet C, karena gua yakin kalo lo lebih rajin belajar, nilai lo bisa lebih gede dari gua…”..wow indahnya pembicaraan yang seperti itu, dimana pembicaraan yang sederhana itu di dalamnya tersirat dan tersimpan makna-makna nasehat, penghargaan, pemakluman, semangat.

Ingatlah salah satu sifat dasar manusia adalah ingin nya rasa untuk dihargai, di perhatikan, diperdulikan, suatu sikap yang jujurlah bahwa anda,saya, kita membutuhkan sikap tersebut tetapi tidak untuk mengharapkan, biarlah orang lain sendiri yang mengatakan, karena ketika pengharapan telah tertaman dalam diri kita dan ternyata tak sejalan dengan realita sesungguhnya akan timbul suatu penyesalan.

Inilah satu kesadaran yang harus kita bangkitkan dalam diri kita, yaitu seringlah melihat dari sisi orang lain, mengapa ? karena sering kali kita menempatkan sesuatu berdasarkan kadar dan sisi diri kita saja, padahal belum tentu menurut kita baik, baik juga bagi orang lain. Cobalah ketika anda berbicara dengan lawan bicara anda, cari apa yang menyenangkan dari perkataan orang lain ketika berbicara dengan anda, dan cari perihal apa yang kurang berkenan di hati kita, jangan lah anda…ketika anda tidak senang orang lain terlalu berlebihan membanggakan dirinya, anda pun ternyata…..serupa dengan dia, dimana kecenderungan anda dalam berbicara pun adalah membicarakan diri anda secara berlebihan. Bukan berarti pula anda hanya menjadi sebuah patung yang mendengar tanpa ada sedikit pun respon dari mulut anda. Jadilah pembicara yang baik dengan banyak mendengar (aktif), berusahalah untuk selalu menjadi orang yang menyenangkan ketika berbicara, orang yang ketika setelah anda berbicara dengan lawan bicara anda ada hal yang berkesan untuk mereka, karena anda menghargai mereka, anda peduli dengan mereka, dan anda bukan penjilat busuk bagi mereka, tapi anda adalah orang yang ketika hitam mengatakan hitam dengan niat, cara yang baik dan ketika putih mengatakan putih dengan lurus dan tulus tanpa kata berlebihan. Jadilah anda ketika anda tidak berada disisinya masih terngiang raut-raut kebaikan anda, tebarkanlah kebaikan dimana pun anda berada, berusahalah untuk selalu meninggalkan jejak kebaikan anda dimana pun anda berada, dengan siapun anda berbicara, karena mungkin anda tidak akan bertemu kembali dengan orang-orang yang anda kenal, ketika kesalahan terjadi, penyesalan tidak lah menjadi akhir.

Belajar terus…..karena hidup didunia ini tidak lah sendiri, kita akan selalu berdampingan dengan manusia lainnya, sebelum jatah nafas terakhir kita didunia ini. Cari lah ilmu dalam bergaul , karena pergaulan lah yang menciptakan nilai dan citra diri kita.

Wallahu A’lam bish-showaab.

Kritik dan sarannya : riosyam@telkom.net

Baca Selengkapnya »»

Jilbab Nan Indah

Selama ini mungkin masih ada sebagian wanita Muslim yang belum paham “apa benar memakai hijab/jilbab/kerudung itu wajib hukumnya…?” ini masih bisa kita maklumkan karena mungkin belum sampainya syari’at tersebut kedalam ruang dirinya, tapi mungkin ada juga sebagian muslimah lainnya yang paham dan tahu hukum syari’at yang mewajibkan menutup aurat dan bagian tubuh mana saja yang hanya boleh diperlihatkan tetapi entah alasan apa -yah…hanya hati Ukhti sendiri yang tahu – yang membuat mereka (muslimah) enggan menghulurkan tudung hingga menutupi bagian tubuh.

Padahal Allah berfirman dalam surat Al-Ahzab yat 59 : “Hendaklah mereka (muslimah) menghulurkan tudung keseluruh tubuh meraka (muslimah) ,supaya mereka mudah dikenali orang, karena itu mereka tidak diganggu”

Jelas sekali dalam firman Allah tersebut, wanita di perintahkan untuk menutup aurat dengan menghulurkan tudung (jilbab). Tujuannya bukan untuk menghalangi wanita untuk tampil cantik –sebagaimana yang di idam-idamkan wanita di jaman ini – tetapi supaya mereka mudah untuk dikenali dan menjadikan ciri khas dari wanita. Coba kita lihat dan perhatikan di jaman sekarang bagaimana kita lihat wanita-wanita banyak yang berpakain ala laki-laki, dengan jelana jeans yang ketat, baju yang ketat, potongan rambut yang serba wah dengan penuh model dan sejuta warna.”celana pensil” hi…hi…mungkin inilah model celana yang sedang top di kalangan anak muda saat ini, baik laki-laki maupun wanita, dimana sedikit sulit membedakan mana yang kutub utara (laki-laki) dan mana yang kutub selatan (wanita). Apakah alasan kaum Hawa di jaman ini yang merasa jilbab/hijab membatasi ruang gerak mereka untuk tampil anggun, cantik, tampil beda, elegan, dan variant-variant lainnya (“apaan tuh….(*_‘)..”) memang sebuah tanda Tanya besar (“ ? ”).

Memang banyak argument yang di lontarkan oleh Kaum Hawa yang mengatakan “Jilbab itu kan Cuma tampilan luar, yang penting kan hatinya dulu di jilbab-in..hi..hi lucu juga yah, kalo hati dipakein jilbab, Gimana caranya yah..,” , ada lagi yang beragumen sedikit berbeda kata dan pengucapan tapi bermakna sama “Banyak…koq..wanita berjilbab, ternyata tingkah laku nya busuk, wanita tersebut hanya bersembunyi di balik kerudungnya hanya untuk menutupi aib-aib dirinya” . atau yang ini “walau pakaen serba ketat dan serba keterbasan bahan, yang penting kan hatinya longgar, kebaikan yang ditebar tak terbatas” atau yang ini – ni “buat apa jika yang longgar hanya pakaian tapi ternyata hatinya sempit penuh kedengkian, buat apa kerudung tergurai tetapi sifat nya terikat kesombongan”.

Argumen-argumen itu tak bisa sepenuhnya kita anggap salah karena mungkin memang ada bukti real di lapangan dan tak sepenuhnya pula bisa kita anggap benar karena masih banyak wanita berkerudung dengan kemulian akhlaknya, semua itu kembali kepada keyakinan kita masing-masing karena tidak ada paksaan dalam berkeyakinan. Ups….Mungkin para ukhti or Akhi yang sedang membaca tulisan ini punya Argumen masing-masing… di tulis di hati aja yah….

Sekarang kita coba buka mata hati kita, kita jernihkan pikiran kita, mungkin selama ini kita banyak menutupi hati kita dengan debu dan noda dosa, sehingga cahaya Furqan tertutup oleh hijab-hijab hitam. Memang Kerudung/hijab bukan jaminan utama wanita tersebut berakhlak mulia, bertutur kata sopan, atau mencerminkan wanita baik. Tapi coba kita renungkan kembali…… apakah lantas membuat suatu ketetapan bahwa jilbab bukanlah suatu keharusan diakibatkan banyaknya wanita berkerudung tak mencerminkan keselarasan dengan kerudung yang di kenakkan. Apakah pantas kita sebagai makhluk yang diciptakan membahtah dan ber-argumen untuk suatu alasan kenapa tidak memakai jilbab sehingga kita mengabaikan perintah-Nya sebagai pencipta manusia yang termaktub jelas dalam AL-Qur’an. Ingatlah….untuk selalu kita ingat, bahwa Allah Maha Tahu dan Maha Benar dengan segala Firman-Nya, yakinlah dan memang benarlah adanya semua yang Allah Firmankan dalam kitab Suci adalah untuk semata-mata kebaikan manusia. Jadi larangan membuka aurat, jangan sampai kita makhluk yang Super lemah ini beranggapan berarti Allah membatasi ruang gerak kita, dan mengekang kebebasan kita. TIDAK….sekali-kali…TIDAK… dan Tidak, semua alunan firman nan suci yang termaktub di dalam Al-Qur’an itu pasti tersimpan sejuta kebaikan yang kita sebagai manusia tak mampu dan takkan pernah mampu mencapai pengetahuan-Nya yang Maha Luas…”Subhanallah”..

Mari kita ambil sebuah analogi “seorang ibu yang mempunyai anak yang lahir dari Rahim nya sendiri akan tahu apa yang baik dan apa yang buruk untuk anaknya. Kita semua walaupun kita belum punya anak tapi kita mengalami proses dimana kita dalam keadaan bayi itu, setipa kita tahu seorang bayi/balita “tidak tahu” apa yang ia lakukan itu berbahaya atau tidak. Tapi ibu yang melahirkannya lebih tahu apa yang berbahaya untuk bayinya dan apa yang tidak. Sang balita/bayi tidak tahu kalau ia memakan makanan yang kotor itu bakal membahayakan kesehatan dirinya, karena ketidak tahuannya ia akan tetap memakan sekalipun sampah, tapi apa mungkin sebagai seorang ibu yang mempunyai Hati dan rasa yang penuh sayang dan cinta akan membiarkan Si bayi memakan begitu saja makanan sampah/kotor tersebut, tapi terkadang si bayi menangis menolak perintah ibunya karena melarang memakan makanan tersebut. Kenapa bayi itu menangis melawan perintah ibunya,Mengapa …? ”Karena bayi itu tidak tahu”.

Kita tak dapat menyangkal bahwa memang banyak wanita muslim yang tak berkerudung tetapi memiliki akhlak yang mulia, bicaranya yang sopan, pancaran matanya yang penuh dengan cahaya keindahan dan kebaikan, tingkahnya yang begitu anggun, senyum manisnya yang selalu terkurai, tak pernah usil dengan urusan orang lain. Menggetarkan setiap insan yang menatap, tapi kita tak boleh juga mengecilkan hatinya dengan mengatakan buat apa sifatnya baik… toh….masih mengumbar tubuh dan ngak bisa menjaga aurat, harusnya kita mendoakan semoga Allah memberikan hidayah sehingga terasa lengkaplah keanggunan nya sebagai wanita seutuhnya karena ia telah berakhlak baik, bukankah Nabi diutus untuk menyempurnakan akhlak. Tetapi alangkah lebih indahnya lagi apabila dengan kemulian akhlaknya itu ditutupi dengan pakain yang indah (jilbab).Dengan kerudung yang tergerai menutupi tubuhya dan bagian yang bisa memacu syahwat para laki-laki berhidung belang, Tubuhnya yang tertutup rapih, tersembunyi didalam pakain yang longgar. Tubuhnya yang indah hanya akan ia sajikan dihadapan laki-laki yang telah halal untuk-nya. Dia tidak menjadi seperti barang dagangan di emperan yang setiap orang dapat melihat dengan mudahnya dan memegang dengan mudahnya dan menyimpan nya kembali apabila tak ingin dibeli. Tapi ia menjadi seperti sebuah perhiasan di dalam etalase yang begitu indah (jilbab) dan ruangan yang begitu megah(hati) yang orang hanya dapat melihat dan tak dapat menggenggam sedikitpun Karena terkunci rapat kecuali yang telah deal bertransaksi (ijab.kabul – nikah).

Di samping itu banyak juga wanita berkerudung yang tak mencerminkan kerudungnya, dimana kerudung dan sikap(akhlak) berbanding terbalik, dimana bicaranya yang suka ngelantur kesana-kemari,sinis dalam menatap, senyum yang terkurai hanya sebelah bibir tidak full dan ikhlas, tapi kita juga tak bisa sepenuhnya mengatakan itu salah dan memutuskan bahwa wanita itu munafik….atau apalah versi yang lainnya, karena dengan berkerudung saja itu sudah cukup baik karena ia melaksanakan salah satu perintah Allah untuk menutup aurat, mungkin lebih baik kita doakan semoga Allah memberikan hidayah kepada-nya sehingga lengkaplah kecantikan kerudungnya di temani akhlak yang baik sebagai teman sejatinya nanti.

Marilah saudaraku, kita pahami sesuatu itu dengan hati yang lapang, dengan pikiran terbuka tetapi tidak kebablasan, dengan akal sehat tidak dengan emosi semu. Yakinlah bahwa Apa yang di perintahkan Allah dan apa yang Dilarang oleh-Nya seutamanya hanyalah akan berbalik untuk kita sendiri sebagai manusia ciptaan-Nya, karena Allah Maha sayang kepada kita, Allah Tidak ingin kita salah dalam melangkah. Semoga suatu saat nanti seluruh wanita muslim menggunakan pakain keindahannya (jilbab) yang menjadikan karateristik wanita muslim sehingga mudah dikenali sebagaimana yang termaktub dalam Al – Qur’an di tambah dengan nilai Kemulian Akhlak yang baik.

Semoga bermanfaat……..

Wallahu A’lam bish-showaab.

Kritik dan sarannya : riosyam@telkom.net

Baca Selengkapnya »»

Tengah Itu Lebih Baik

Fisika merupakan salah satu mata kuliah yang boleh dikatakan sebagai mata kuliah yang menyeramkan, bukan ada niatan untuk melebih-lebih kan sesuatu, tapi itulah gambaran ironi dari mata kuliah tersebut. Mengapa ? karena, setiap tahun mata kuliah ini selalu memakan korban yang selalu banyak dibanding dengan mata kuliah lainnya, bayangkan saja ada sebagian mahasiswa yang mengambil mata kuliah ini sampai tiga kali berturut-turut dan ternyata dari ketiga nya itu selalu mendapat nilai yang mengenaskan, kami selaku mahasiswa STT PLN sering mengatakan sebagai hatrick…., wah….termasuk penulis sendiri (ups…ketahuan). Mata kuliah Fisika ini di kampus STT PLN khususnya jurusan Teknik Informatika dibagi menjadi 2 yaitu Fisika Dasar dan Fisika Listrik & Magnet. Dan dari kedua mata kuliah tersebut berbanding lurus dalam menciptakan korban-korban yang bergelatakan sehingga harus siap untuk bertempur di tahun-tahun berikutnya atau bertempur melalui jalur khusus (semester pendek). Tak seperti mata kuliah lainnya , jalur khususpun tak menjadi jaminan lolosnya tentara-tentara (mahasiswa) dalam audisi sebagai tentara siap tempur (lulus). Penulis sendiri sering mendengar cerita dari mulut ke mulut, sebuah cerita yang tak lagi asing di kampus bahwa pernah ada yang mengambil mata kuliah fisika ini di jalur khusus(SP) sekitar 5 orang , berita hebohnya….. ternyata kelima orang tersebut tidak lulus dengan grade yang sangat memprihatinkan yaitu E. Bak sebuah ranjau yang bila terinjak menciptakan ledakan yang cukup dahsyat. Membuat aliran darah dari jantung ke seluruh tubuh mengalir dengan kencang dan terhenti dengan lambat, menciptakan suasana hati kacau balau ( uh…sory terlalu dramatisir kali yeee)…yah mungkin kurang lebihnya gambaran kisah Fisika ini seperti itu.

Siapa yang salah ? sebuah pertanyaan yang sulit di jawab dengan sekali duduk, dengan waktu sesaat, mungkin membutuhkan suatu survey, dan analisa kali ya…he2x sok kritis banget... Penulis melihat tidak ada pihak yang mesti disalahkan, karena menyalahkan hanya akan menghambat, setiap pihak memiliki tanggung jawab masing-masing, dimana mungkin letak kesalahan mahasiswa adalah kurang nya melihat kebelakang kegagalan sebelumnya sebagai pembelajaran untuk memperbaiki di tahun berikutnya, kebanyakan mahasiwa yang mengulang sudah memberi aliran sugesti yang negatif pada diri sendiri dimana Fisika adalah hal yang menyulitkan, sulit untuk belajar, betapa banyaknya rumus yang digunakan, sulit untuk lulus, poko’e fisika…oh…fisika…. Dan kesalahan yang penulis lihat dari tenaga pengajar (dosen) adalah kurangnya tim pengajar untuk melihat perkembangan mahasiswa, apakah mereka benar-benar paham atau tidak, dan kurang perhatiannya dosen, karena mungkin dosen merasa telah menyampaikan materi yang ia anggap dapat dipahami dengan mudah oleh mahasiswa ternyata mahasiswa sulit untuk memahaminya, dan kurang komunikatifnya dosen dengan mahasiswa.

Sebagai pembelajaran buat rekan-rekan, sebuah kisah penulis ketika penulis sampai tiga kali mengambil mata kuliah Fisika Dasar, pertama mengambil mata kuliah ini penulis mendapat nilai yang menyakitkan yaitu tak tanggung-tanggung langsung E, semua itu terjadi karena kurang minatnya penulis terhadap Fisika, sugesti awal yang buruk terhadap Fisika sebagai kelanjutan sugesti sewaktu SMA, kemudian paradigma yang salah karena awalnya penulis beranggapan dan selalu berpendapat dalam diri ngapain pusing-pusing belajar Fisika, toh…nantinya gak bakalan kepake sewaktu kerja, dari aliran-aliran dan arus negatif itulah yang membuat penulis malas untuk masuk perkuliahan Fisika, tidak pernah mengerjakan Pekerjaan Rumah yang ditugaskan, jarang memperhatikan, tidak senang dengan dosennya, inilah…itulah…

Tahun berikutnya penulis mengambil kembali mata kuliah Fisika dasar, dengan sugesti yang tidak separah sewaktu pertama mengambil, dengan niatan Fisika itu penting demi kelulusan, tapi kesalahan penulis adalah penulis masih belum memberikan aliran dan arus positif ke dalam diri penulis, penulis masih fokus pada menghilangkan sugesti buruk saja. Tanpa dibarengi dengan teknik belajar yang berbeda. Tak ayal nilai E pun kembali mencuat ke permukaan sebuah kertas KHS (kartu Hasil Studi), shock yang penulis rasakan berbanding terbalik dengan khayalan sebuah kelulusan. Akhirnya dengan berbagai perenungan kenapa sampai kesalahan ini terjadi kedua kalinya, penulis menemukan bahwa karena penulis tidak cinta dengan Fisika, akhirnya penulis mencari cinta-cinta penulis akan Fisika, penulis memberikan gambaran dalam diri penulis bahwa penulis pasti bisa lulus bahkan tak tanggung-tanggung penulis mentargetkan grade A sekaligus, Fisika itu mudah hanya tinggal rajin belajar saja, ikhlas dalam memperhatikan penjelasan dosen, semangat untuk berkuliah. Dan ternyata memang kekuatan sebuah mimpi, semangat, target, dan perbaikan itu berbuah manis, penulis berhasil mendapatkan nilai A. Wah….kebanggaan yang luar biasa bagi pribadi penulis sendiri.

Tapi ditahun berikutnya penulis mengambil mata kuliah Fisika Listrik dan Magnet, rasa sombong yang telah dihembuskan oleh syetan dalam diri penulis dan rasa menganggap sepele dan mudah sesuatu hal membuat penulis menjadi manusia yang rendah. Inilah satu pembelajaran lagi bahwa sikap over PD tidaklah baik sebaik yang kita pikirkan, karena aliran dari over PD ini bisa membuat kita hilang kendali, bahkan karena menganggap enteng sesuatu, berakibat pekerjaan yang kita kerjakan malah tidak optimal, karena yang terlebih dahulu kita pikirkan adalah hasil dengan keyakinan yang berlebihan bahwa hasil yang kita dapatkan pasti memuaskan, sehingga berakibat pada mengesampingkan proses yang dilalui. Sehingga hanya nilai C yang mangkal di KHS.

Tengah itu lebih baik……itulah pelajaran yang dapat penulis petik dari segelintir kisah hidup penulis. Kenapa? Karena dengan kita memposisikan diri kita berada di tengah, kita terhindar dari, pertama sikap under PD (pesimistis) karena sikap pesimistis hanya akan mengendurkan semangat, kalah sebelum berjuang, melihat kegagalan terlebih dahulu sebelum mencoba, puas dengan keadaan walaupun sebenarnya keadaan tersebut tidaklah kita inginkan, merasa tidak punya kelebihan dari orang lain, menjadi makhluk yang tidak bersyukur, karena telah diberikan potensi tetapi tidak pernah ingin untuk menggali atau ketika telah menggali tapi ketika ada batu penghalang berhenti untuk menggali. Selain itu terhindar pula dari budaya sikap yang over PD (terlalu percaya diri) karena sesuatu yang kadarnya berlebihan pasti tidak baik, misalkan saja orang terlalu banyak bicara pasti lama-lama akan dijauhi, orang yang terlalu banyak makan malah bikin sakit peyuuuut….., dan dengan terlalu percaya diri pun, kita sering meremehkan orang lain, merasa paling benar, dan kita tidak akan pernah bisa menambah ilmu dari orang lain karena energi dalam diri orang yang over tidak pernah ingin diajari, karena konsep orang yang under “gua ini pinter..masa…gua diajarin sama si anu…yang jelas-jelas kualitasnya beda ma gua”, satu prinsip yang penulis dapatkan dari buku-buku tentang pembelajaran diri adalah “be the beginner” dan jadilah lautan dimana lautan berada pada posisi yang lebih rendah dari sungai, muara, sehingga semua akan mengalir menuju lautan sekalipun dari segi posisi lebih rendah. Dengan selalu berusaha menempatkan diri untuk berada di Tengah, gagal tak membuat pantang untuk berhenti, berhasil tak membuat tinggi hati. Dengan berada ditengah nilai akhir bukanlah acuan utama, karena nilai proses adalah yang utama, percuma hasil begitu indah, tetapi tak bernilai di mata Tuhan karena telah kita kotori dengan pemberian bau-bauan ketidak jujuran, kepicikan, ketamakan, ke egoisan.

Wallahu A’lam bish-showaab.

Kritik dan sarannya : riosyam@telkom.net

Baca Selengkapnya »»

LKMM Pra TD

Diawal rencana BEM untuk mengadakan suatu pelatihan yang insyaAllah masuk kedalam standarisasi nasional. Sebuah ide yang brilian dan cemerlang dari salah seorang Anggota Bem saat ini, yang memiliki potensi diri yang mungkin boleh dikatakan menonjol dari anggota lainnya, bukan berarti merendahkan kemampuan anggota lain kerena saya yakin setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing pada dirinya, oleh karena itu cobalah terima (aktif = perubahan) kekurangan kita “…” karena dengan kekurangan kita mungkin adalah kelebihan untuk orang lain, dan syukurilah ( aktif = not sombong) kelebihan kita adalah kekurangan orang lain….sebuah sunnatullah yang tak bisa kita tolak bahwa didunia selalu ada dua sisi yang berbeda. Rupanya anggota ini telah punya mimpi bahwa saat ia masuk dalam keanggotaan BEM nanti ia akan mengadakan suatu pelatihan yang belum pernah diadakan sebelumnya di Kampus STT-PLN, setelah diutarakan ternyata support dari anggota lainpun saling bersahutan, itulah organisasi bahwa kita tidak bisa berdiri sendiri, kita butuh dukungan, kita butuh perbedaan ( read : u/ perbaikan ), kita butuh kebersamaan dimana sama tidak berarti harus mengikut dan mengekor tanpa landasan yang jelas, sama dikala tujuan kita sama, niat kita sama, walaupun terkadang cara kita berbeda karena setiap diri punya karakter diri yang berbeda, di organisasi lah kita akan belajar mengenal pribadi seseorang.. Akhirnya lahirlah Latihan Keterampilan Manajemen Tingkat Dasar Pra Tingkat Dasar (LKMM Pra TD) . Walau ide itu telah terlahir, konsep telah tersusun, tapi LKMM Pra TD saat itu masih sebuah nama yang tidak tahu seperti apa rupanya nanti, seperti apa gerakannya nanti, Karena terkadang konsep yang matang tidak menjanjikan bahwa hasil akan baik, tapi Tidak bisa disangkal lagi suatu acara yang boleh dikatakan bahkan terbukti sukses pasti terlahir dari konsep dan rancangan yang tertata dengan rapih. Akhirnya serangan demi serangan dilancarkan oleh milisi ( panitia )…dengan gencarnya gerakan promosi pengenalan siapa, apa, and seperti apa sih….si LKMM itu.

Pagi itu tepatnya tanggal 13 Juni 2008, panitia…. khususnya Seksi Perlengkapan telah sibuk dengan berjubelnya tugas yang harus mereka kerjakan, sebuah komitmen yang telah mereka genggam disaat pemilihan panitia,….dan sebuah implementasi real yang akan mereka kerjakan, karena komitmen hanya akan menjadi halusinasi yang percuma tanpa sebuah aplikasi, but…seksi

perlengkapan dipagi itu berada disisi dimana mereka orang-orang yang sejalan antara perkataan dengan perbuatan, sedikit massa tak mengendurkan dan mengurungkan niat dan action yang mereka lakukan, dengan sedikit tergopoh-gopoh..tak ayal suatu fitrah kemanusiawian pun disaat tangan ini mengangkat beban berat, kaki ini penopang dorongan barang, badan ini menahan tumpukan barang, perlahan….keringat pun membasahi badan mereka….standing applus buat seksi perlengkapan…., mungkin pada pagi itu dimana panitia sedang sibuk-sibuknya, mungkin sebagian calon peserta masih berasyik-asyik dengan memilih-milih kira-kira baju apa yah…yang mau dipakai, mungkin ada sebagaian peserta lainnya masih sibuk berdandan, menata rambut,mengulang kembali, atau mungkin sebagian lainnya masih mendengkur tidur…ups..becanda lagi kok….namanya juga “mungkin”. Di hari pertama acara LKMM Pra TD itu, suatu penghormatan bagi kami selaku panitia, mengapa ? karena pada hari itu, Pembukaan dihadari oleh Bapak Ketua STT-PLN, dan Waket III. Wah sebuah kebanggan yang tak ternilai dengan uang, karena uang tidak dapat membeli kebanggaan, tapi kebanggaan lebih berharga dari uang. Kebanggan bukan berarti kesombongan. DI hari itu pertama ….acara ini selesai dibuka, dengan beberapa ceremonial…

Peserta yang terlihat masih malu-malu tapi sebenarnya mau, itulah sebagian sifat manusia, padahal di alam pikiran ini sudah berkecamuk berbagai ide, pertanyaan, gagasan, inovasi, but semua itu kandas di kala pikiran negative mulai merasuk dengan cara yang sangat halus, bahkan tanpa kita sadari memberikan beberapa pernyataan yang menjatuhkan diri kita, misalnya…pikiran kita :”jangan ngomong lo…..ntar pasti diketawain…,,,,,ah…..takut salah…” dan lainnya.

Ketika kita mulai sedikit melawan si jiwa negative ini, mulailah pikiran negative ini menggencarkan tindakan berikutnya, yaitu tangan berkeringat, badan bergetar, mata memerah, jantung….dag…dig…dug….”ups pengalaman”. Tapi pemenang itu hadir dikala segala ketakutan yang belum pasti terjadi….terbantahkan dengan keberanian dengan diawali dengan acungan tangan, menegakkan berdirinya badan, dan terluncur lah berbagai ide, pertanyaan, gagasan, walau pada tahap awal masih dibarengi dengan berbagai kontraksi di badan, intonasi suara, tapi lambat laun semua itu akan memudar.

Di hari kedua peserta mulai menemukan sedikit pencarian dari suasana, sikap, antusias. Pada hari kedua itu mulailah bermunculan orang-orang yang di hari sebelumnya masih duduk termanggu malu-malu, hari ini mulai menggaungkan argument. Berawal dari ketegangan raut wajah, akhirnya perlahan mulai luntur dengan seuntai senyum hangat tanda sebuah keikhlasan.

Masih ingatkah…..real story “kutu anjing”, kutu loncat yang loncatan nya bisa mencapai 300 kali lipat dari posisi nya berada. Sebuah peristiwa yang mungkin masih terekam dalam ingatan peserta, sebuah hikmah kehidupan yang dapat di petik seuntai pesan, bahwa lingkungan memiliki faktor terhadap perkembangan diri seseorang, tapi satu prinsip yang harus kita pegang, bahwa penguasa, pemimpin, motor, diri kita adalah “aku (seperti yang dikatakan salah seorang pemandu bahwa aku adalah ambisi, kenyataan, dan usaha” sang diri anda sekalian.

Satu sunnatullah yang tak dapat dibantah dan ditolak bahwa dibalik sebuah pertemuan, perjumpaan pasti akan diakhiri dengan perpisahan, begitu jualah yang kami (panitia) dan peserta alami pada hari itu tanggal 15 juni 2008, sekelumit rasa berkecamuk dalam diri kami selaku panitia, berbagai rasa bercampur tertumpah ruah, senang, bangga, haru, sedih (uhhhh,,,,,,,dramatisir banget deh….!) mengiringi perpisahan kami dengan para peserta, tetapi perpisahan ini bukan untuk peninggalan, perpisahan ini untuk perbaikan. Dengan hati yang tulus, jiwa yang halus kami panitia LKMM 2008 mengucapkan “TERIMA KASIH”, atas partisipasi,kesiapan, kemauan, peserta untuk memeriahkan acara BEM STT-PLN.Ingat……..Kepemimpinan adalah sebuah kemampuan bukan sesuatu yang diberikan secara Cuma-Cuma oleh Tuhan, karena Tuhan memperkenalkan suatu hukum sebab-akibat, siapa yang berbuat akan mendapatkan balasan, tinggal soal waktu yang hanya sang Maha memutuskan. Kepemimpinan tidaklah harus dengan perintah, tidaklah harus dengan otoriter, tidak harus dengan teriakan, tidaklah harus dengan ketegangan, tidaklah harus berdiri dikala pengikutnya duduk, tidaklah harus memaksa dikala keputusan tak iyakan. Pimpinan lah terlebih dahulu diri anda sebelum anda memimpin sekelompok orang lain. Kepemimpinan yang terbaik adalah aplikasi/ contoh real dari sebuah tindakan. Karena kami yakin anda adalah pemimpin-pemimpin di hari esok yang akan membawa harum khususnya nama STT-PLN dan nama bangsa ini.

Baca Selengkapnya »»

Hidup Mahasiswi


Suara itu masih terdengar di kepala ku, suara letupan tembakan peluru karet yang mengenai dada salah satu rekan perjuangan kita.

Tak usah aku menanyakan apa yang ia rasakan, ia tak berkata apapun, hanya raut mukanya lah yang menampakkan betapa sakitnya peluru karet yang terhunus menuju dadanya.

Tak perlu ku tanyakan kepada kalian saudaraku, malu rasanya….sangat malu melihat Mahasiswi Putri kita pada hari ini, mengapa? Mereka yang diciptakan oleh Tuhan dengan sifat yang lemah lembut, mereka mempunyai tipikal yang lebih peka perasaan nya, mereka lebih sensitif dengan bentuk keanarkisan, mereka lebih kecil kekuatan fisiknya untuk melawan di banding dengan pria.

Inginkan kah kalian mengetahui bagaimana gerak perjuangan Mahasiswi putri hari ini, mereka…mereka dengan lantang meneriakan suara-suara perjuangan, mereka rela untuk mencoba mendorong brigade aparat yang berdiri menghalangi sebuah pagar tinggi yang amat congkak, sebuah pagar yang padahal didalam sanalah wakil-wakil kita, disanalah seharusnya suara rakyat di perjuangkan, tapi pagar itu terasa bagaikan benteng yang berusaha menahan gelombang suara rakyat yang dengan lantang terkumandangkan seolah menjadi lemah dengan kuatnya gerbang itu menghalang. Mereka mencoba mendorong dan mendorong kembali barisan brigade Polisi, dengan saling bergantian, dengan tidak terlihat sedikit pun wajah penyesalan dalam raut wajah yang mereka tampakkan.

Hari ini telah kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri, bagaimana massa putri tak luntur semangatnya ketika kondisi di lapangan mulai menegang, emosi sudah mulai tersulut, beberapa aparat mulai geram, mereka akhirnya mendorong massa putri dengan sedikit paksa, akhirnya seorang komando di atas sebuah podium, memberikan komando untuk mengamankan massa putri dengan memborder mereka dengan kuat , dan menyuruh seluruh massa untuk duduk, dengan border pelindung tetap berdiri dengan kokoh walau badan terasa gopoh. Ketegangan semakin memuncak, para massa pria mencoba melindungi massa putri yang sebagian belum masuk ke dalam border pria, beberapa rekan kita pun menjadi korban, darah yang masih begitu segar mengalir dari kepala seorang massa pria akibat pentungan aparat yang dilayangkan dengan penuh tidak ada rasa kemanusian.

Wahai putri, tak usah kalian berkata, biarlah mereka yang sadar akan menjadi tersadar. Biarlah dunia ini terdiam dengan kemenungan. Biarlah alam ini yang menyeru, langit akan menjadi saksi, awan kan menjadi bukti, matahari yang menyengat kan menjadi penyinar, di hari ini, kalian telah membutktikan bahwa kalian bukanlah makhluk yang hanya pandai berhias, makhluk yang hanya pandai menyapu, memasak, tapi kalian wahai putri adalah pejuang rakyat ini, kalian adalah intelektual gadis yang menjadi catatan sejarah dan peradaban bangsa. Kelemahan tak menjadi halangan untuk kalian, karena kelemahan yang sesungguhnya adalah ketika panggilan perjuangan tak bergeming di setiap telinga insan yang mendengar.

23 – maret – 2008

Wallahu A’lam bish-showaab.

Kritik dan sarannya : riosyam@telkom.net

Baca Selengkapnya »»

Bahasa Indonesia itu Penting Loh !

Bahasa merupakan anugerah Tuhan kepada seluruh umat manusia dan merupakan wujud keagungan-Nya, bayangkan begitu banyaknya bahasa yang dimiliki oleh penduduk dunia ini, setiap daerah/negara memiliki bahasa yang beragam dan berbeda, bahkan dalam satu negara saja memiliki beragam bahasa yang berbeda, misalnya saja Negara Kita yang tercinta ini memilki beraneka ragam dan macam Bahasa, misalnya saja bahasa sunda, batak, minang, ambon, jawa, dll. Bahkan keindahan bahasa terasa lengkap sudah dengan lagam/irama/intonasi yang berbeda.

Bahasa tak ayal mengambil peranan yang sangat penting bagi kelangsungan dan kelancaran hidup seluruh umat manusia di muka bumi ini, terutama dalam kegiatan untuk berinteraksi atau berhubungan secara sosial sebagaimana fitrahnya manusia diciptakan sebagai makhluk pribadi dan sosial. Dapat dibayangkan bagaimana jika manusia didunia ini tidak memiliki bahasa untuk mengutarakan maksud tertentu. Mungkin keindahan yang kita peroleh saat ini takkan terjadi, karena lewat bahasa lah mulut ini mengambil peranannya sebagai fitrah untuk berbicara.

Sedikit kembali melihat kebelakang, membuka kembali lembaran-lembaran sejarah yang telah terbungkus dalam sebuah tulisan, museum, replika perjuangan, dan bentuk-bentuk penggambaran perjuangan. Tepatnya pada masa penjajahan dimana para tirani menjajah dengan semangat kesombongan dan kecongkakannya seolah menganggap dirinya Raja Diktator penguasa dunia. Pada masa itu tepatnya pada masa penjajahan yang berabad-abad dirasakan oleh Bangsa Indonesia, penderitaan, kemiskinan, kebodohan, serba kekurangan adalah teman yang mengikuti keseharian seluruh masyarakat indonesia saat itu.

Segala bentuk perlawan telah berusaha digencarkan oleh putera dan puteri Tanah Air saat itu tapi Tuhan belum berkehendak untuk memberikan kemenangan kepada Bangsa ini, perjuangan-perjuangan akhirnya pun selalu kandas ditangan tirani-tirani. Dibalik kekalahan-kekalahan yang dialami saat itu terdapat para pemuda Indonesia yang merasa bahwa butuh sesuatu untuk menyatukan kekuatan seluruh penjuru negeri nan Elok ini, karena salah satu hal yang melatarbelakangi kekalahan demi kekalahan yang dialami Bangsa Indonesia adalah karena sifat perjuangan yang masih kedaerahan, dimana setiap daerah hanya berjuang dengan tenaga seadanya dan perjuangan hanya bersifat lokal sehingga mudah dikalahkan oleh Penjajah, padahal bayangkan jika seluruh masyarakat indonesia dari pelosok manapun bersatu melakukan perjuangan dan pemberontakan secara Nasional (menyeluruh) mungkin Penjajah akan keteteran walaupun dengan persenjataan yang jauh memadai dibanding Bangsa Indonesia. Lalu dirasa bahwa perbedaan yang paling mencolok dan beragam adalah dari segi Bahasa, karena saat itu belum ada Bahasa Nasional yaitu Bahasa Indonesia seperti sekarang ini, masyarakat indonesia hanya mengenal bahasa daerahnya masing-masing, mungkin sebuah anologi berikut ini dapat menjadi sebuah landasan mengapa pentingnya suatu bahasa pemersatu, misalnya seorang Minang dengan seorang Sunda, terjadilah percakapan seperti berikut, pada saat itu terjadi banjir dimana air sungai meluap dan ternyata si Minang dan si Sunda berada pada rumah yang sama, Si Sunda Bertanya kepada Si Minang , "nang .... Cai geus sakumaha....(airnya..sudah segimana)", kebetulan saat itu si SUnda berada dalam lantai dua Rumah itu, Si Minang yang berada di lantai bawah tak mengerti apa yang dikatan oleh Si sunda, lalu ia coba menerka saja mungkin yang ditanyakan si Sunda tentang air , lalu si minang dengan santai menjawab "nda, aiye nyo..masih sakete'...(airnya...masih sedikit)", spontan si Sunda kaget karena yang dia tahu dari perkataan si Minang hanya kata "Saketek" (dalam bahasa sunda seketiak), kaget bahwa air masuk rumah sudah seketiak padahal air yang masuk rumah baru sedikit, itulah sedikit gambaran bagaimana perlunya sebuah bahasa pemersatu.

Akhirnya dirundingkanlah untuk menyatukan seluruh masyarakat indonesia dalam satu bahasa, sehingga dapat di peroleh satu keinginan, satu perjuangan.

diputuskankanlah setelah melalui beberapa proses Bahwa Bahasa Pemersatu itu adalah Bahasa Indonesia dengan tujuan agar tidak ada kecemburuan antar daerah jika nama daerah dijadikan Bahasa Nasional (pemersatu). Semenjak itulah perjuangan indonesia mulai bersifat Nasional (menyeluruh) tidak lagi bersifat kedaerahan karena masyarakat telah disatukan oleh Sebuah Bahasa yang sama, yang mencerminkan, satu rasa, satu jiwa, satu keturunan, satu tujuan yaitu kemerdekaan ,kesejahteraan, lepas dari belenggu kebohodohan. Tak ayal Bahasa Indonesia memiliki andil yang besar dalam perjuangan dan pergerakan menuju sebuah peraihan kemerdekaan. Sehingga betapa pentingnya Bahasa Indonesia yang kita milki ini, karena sejarah mencatat bahwa Bahasa Inilah salah kunci kemenangan Bangsa ini.

Tak ada salahnya kita sebagai generasi kemerdekaan menjaga dan melestarikan Bahasa Indonesia yang memilki Filosopi yang indah, mencintai bahasa ini, bahasa yang telah menyatukan darah para pejuang yang selama ini bercucuran, yang mengikat Bangsa ini dalam satu istana kebersamaan. Janganlah kita merasa malu dengan bahasa ini, tapi banggalah dengan Bahasa Indonesia, dengan inilah, kita saat ini merasakan harumnya kebebasan dari belunggu tirani penjajahan.

Baca Selengkapnya »»